Dementor, Grim, dan Tawanan Azkaban *)
Serial Resensi Novel
Gambar : Cover Harry Potter dan Tawanan Azkaban
Pendahuluan
Buku
Harry Potter dan Tawanan Azkaban merupakan buku fantasi yang dikarang oleh J.
K. Rowling, penulis series buku fantasi Harry Potter. Buku ini menempati series
ke-3 dari 7 series yang ada. Harry Potter dan Batu Bertuah serta Harry Potter
dan Kamar Rahasia merupakan 2 series sebelum buku ini, sedangkan Harry Potter
dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran
Berdarah Campuran, serta Harry Potter dan Relikui Kematian merupakan 4 series
lanjutan dari buku ini. Tokoh protagonis utama dalam series ini bernama Harry
Potter, bersama kedua sahabatnya yang bernama Ron Weasley dan Hermione Granger.
Mereka memiliki musuh kebuyutan yaitu Lord Voldemort dan karena alasan tertentu,
namanya tidak boleh disebutkan secara terang-terangan. Dia sering dipanggil
sebagai Kau-Tahu-Siapa sebagai nama samarannya. Dia juga merupakan tokoh
antagonis utama dalam series Harry Potter. Buku Harry Potter series ke-3 yang
kali ini akan kita bahas secara garis besar menceritakan tentang usaha Harry
bersama kedua sahabatnya dalam menyelidiki dan mencari keberadaan Sirius Black,
seorang pembunuh terpidana yang berhasil kabur dari Azkaban, penjara paling
menyeramkan di dunia sihir. Namun disamping itu, mereka juga harus berhati-hati
dengan keberadaan dementor-dementor yang berkeliaran di sekitar Hogwarts.
Sinopsis
Buku
Buku ini mengangkat kisah tentang Harry, Ron, dan Hermione yang dikisahkan kini berada di tahun ajaran ke-3 di Hogwarts. Pada awal tahun ajaran ini, tentunya seluruh kegiatan tidak dapat berjalan sesuai harapan, terutama dengan keberadaan para dementor yang berkeliaran di sekitar Hogwarts.
Harry dan kawan-kawannya yang mengikuti mata pelajaraan tambahan, mendapat wawasan yang lebih luas tentang misteri dunia sihir. Mereka juga berhasil menguasai mantra-mantra baru yang kedepannya dapat membantu mereka menghadapi masalahnya. Selain itu, mereka juga semakin mahir dalam menggunakan sihir. Walaupun mereka pada awalnya mengalami kendala, pada akhirnya mereka berhasil menguasainya dengan tekad yang kuat.
Kenyataan bahwa Harry tak dapat mengunjungi Hogsmeade bersama kawan-kawannya, tak dapat memenangkan pertandingan Quidditch, serta ditimpa kabar dan rumor yang tak menyenangkan, membuatnya sedih dan kecewa. Namun dengan dukungan dari kawan-kawannya, ia kembali bersemangat dan bahagia. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi. Harry, Ron, dan Hermione berhadapan dengan Sirius Black di Shrieking Shack. Mereka berdebat satu sama lain dan karena tak ada pilihan lain, Black memutuskan untuk menyatakan kebenarannya. Setelahnya, terjadi rangkaian masalah yang sekali lagi mengungkap kebenaran lainnya. Harry berhasil menggunakan mantra expecto patronum dalam jangkauan yang luas, seketika mengusir para dementor yang hendak memberi ‘kecupan’ kepada Black. Seluruh kebenaran yang terungkap memberi harapan kepada Harry, Ron, dan Hermione.
Kisah yang diangkat berhasil membuat para pembaca merasa ketakutan, terkejut, khawatir, lega, dan senang disaat yang hampir bersamaan. Dengan plot yang tak terduga, misteri yang tersembunyi, dan kebenaran yang pada akhirnya terungkap lagi-lagi berhasil membuat para pembaca merasa penasaran dan puas.
Keunggulan
Buku
Kekurangan
Buku
Berdasarkan kisah yang diangkat pada buku Harry Potter dan Tawanan Azkaban, pesan yang dapat diambil ialah kita harus lebih berhati-hati saat mendapat informasi, ramalan, maupun laporan dari seseorang, karena belum tentu apa yang disampaikan memang benar. Seperti, laporan dari Draco yang menyatakan bahwa Buckbeak, salah satu hippogriff milik Hagrid, secara tiba-tiba menyerangnya. Padahal kenyataannya, dia sendirilah yang tak mendengarkan arahan Hagrid untuk tidak menyinggung hippogriff.
Kita juga harus saling menerima dan memahami keadaan dan benda milik orang lain, karena jika tidak, akan terjadi pertengkaran yang menimbulkan perpecahan. Contohnya saja, Ron dan Hermione yang bertengkar soal bagaimana Crookshanks yang terus menerus berusaha untuk menangkap Scabbers. Hal ini seketika membuat mereka saling benci satu sama lain. Selain itu, ketika teman kita membutuhkan, kita harus membantunya maupun menghiburnya.
Buku ini direkomendasikan bagi remaja maupun dewasa yang tertarik dengan novel fanfasi dengan bumbu-bumbu sihir.
Buku ini mengangkat kisah tentang Harry, Ron, dan Hermione yang dikisahkan kini berada di tahun ajaran ke-3 di Hogwarts. Pada awal tahun ajaran ini, tentunya seluruh kegiatan tidak dapat berjalan sesuai harapan, terutama dengan keberadaan para dementor yang berkeliaran di sekitar Hogwarts.
Harry dan kawan-kawannya yang mengikuti mata pelajaraan tambahan, mendapat wawasan yang lebih luas tentang misteri dunia sihir. Mereka juga berhasil menguasai mantra-mantra baru yang kedepannya dapat membantu mereka menghadapi masalahnya. Selain itu, mereka juga semakin mahir dalam menggunakan sihir. Walaupun mereka pada awalnya mengalami kendala, pada akhirnya mereka berhasil menguasainya dengan tekad yang kuat.
Kenyataan bahwa Harry tak dapat mengunjungi Hogsmeade bersama kawan-kawannya, tak dapat memenangkan pertandingan Quidditch, serta ditimpa kabar dan rumor yang tak menyenangkan, membuatnya sedih dan kecewa. Namun dengan dukungan dari kawan-kawannya, ia kembali bersemangat dan bahagia. Namun sesuatu yang tak terduga terjadi. Harry, Ron, dan Hermione berhadapan dengan Sirius Black di Shrieking Shack. Mereka berdebat satu sama lain dan karena tak ada pilihan lain, Black memutuskan untuk menyatakan kebenarannya. Setelahnya, terjadi rangkaian masalah yang sekali lagi mengungkap kebenaran lainnya. Harry berhasil menggunakan mantra expecto patronum dalam jangkauan yang luas, seketika mengusir para dementor yang hendak memberi ‘kecupan’ kepada Black. Seluruh kebenaran yang terungkap memberi harapan kepada Harry, Ron, dan Hermione.
Kisah yang diangkat berhasil membuat para pembaca merasa ketakutan, terkejut, khawatir, lega, dan senang disaat yang hampir bersamaan. Dengan plot yang tak terduga, misteri yang tersembunyi, dan kebenaran yang pada akhirnya terungkap lagi-lagi berhasil membuat para pembaca merasa penasaran dan puas.
- Buku memiliki cover yang
kreatif, unik, menarik, dan elegan. Terdapat tokoh dan benda yang berkaitan
dengan kisah yang dibawakan. Warnanya yang cantik dan simpel dapat menarik
perhatian.
- Font yang digunakan unik,
elegan, dan berkesan kuno. Font surat tulis tangan memberi kesan tersendiri
terhadap karakter yang menulisnya.
- Potongan gambar pada awal bab
sekilas memberi gambaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
- Kisah dan alurnya yang disusun
dengan teratur dan baik membuat series yang satu dengan yang lain masih
berkaitan dan tersambung. Jadi, para pembaca tidak kebingungan saat menyimak
kisah yang dibawakan.
- Kisah yang dibawakan dapat
membuat para pembaca membayangkan dan merasakan peristiwa yang sedang terjadi
maupun makhluk yang para tokoh hadapi.
- Penulisan dan pembagian tokoh
yang diatur dengan baik dan kompleks. Setiap tokoh memberi kesan yang berbeda,
membuatnya memiliki keunikan tersendiri.
- Penulisan nama suatu tempat
yang terkadang terlalu susah untuk diucapkan. Membuat para pembaca terkadang
lupa nama tempat tersebut.
- Beberapa tokoh baru yang
diperkenalkan dalam waktu yang hampir berdekatan terkadang membuat para pembaca
lupa siapa tokoh yang dimaksud.
Berdasarkan kisah yang diangkat pada buku Harry Potter dan Tawanan Azkaban, pesan yang dapat diambil ialah kita harus lebih berhati-hati saat mendapat informasi, ramalan, maupun laporan dari seseorang, karena belum tentu apa yang disampaikan memang benar. Seperti, laporan dari Draco yang menyatakan bahwa Buckbeak, salah satu hippogriff milik Hagrid, secara tiba-tiba menyerangnya. Padahal kenyataannya, dia sendirilah yang tak mendengarkan arahan Hagrid untuk tidak menyinggung hippogriff.
Kita juga harus saling menerima dan memahami keadaan dan benda milik orang lain, karena jika tidak, akan terjadi pertengkaran yang menimbulkan perpecahan. Contohnya saja, Ron dan Hermione yang bertengkar soal bagaimana Crookshanks yang terus menerus berusaha untuk menangkap Scabbers. Hal ini seketika membuat mereka saling benci satu sama lain. Selain itu, ketika teman kita membutuhkan, kita harus membantunya maupun menghiburnya.
Buku ini direkomendasikan bagi remaja maupun dewasa yang tertarik dengan novel fanfasi dengan bumbu-bumbu sihir.
*)
Naswa Fahmia (Kelas 8-J)


Komentar
Posting Komentar